Kesempurnaan Karena Ketidaksempurnaan

on Kamis, 12 Juni 2014
Adalah seorang anak lelaki yang sangat gagah, tampan dan rupawan yang tinggal bersama ibunya di sebuah rumah sederhana.
Saat itu lelaki ini menginjak masa remaja, tepatnya masa SMA. Ibunya memiliki cacat pada sebelah matanya sehingga anak lelakinya malu dengan ibunya ini. Setiap temannya ingin bermain kerumahnya, ia selalu menolak dengan 1001 alasan. Ya gitulah, anak jaman sekarang yang tidak mau dinilai jelek sama orang lain.
Suatu saat, ibunya bertanya kepada anaknya, "mengapa teman-temanmu tidak pernah bermain atau singgah dirumah?''...
"Kok ibu bertanya kepadaku? Seharusnya aku yang bertanya mengapa aku memiliki ibu seperti ini." Ucap anak lelaki..
Sang ibu pun merasa terguncang atas ucapan sang anaknya itu. Tapi ia tak ingin menampakkan bagaimana perasaanya kepada anaknya tersebut. Karena anaknya itulah anak yang teramat ia sayangi. Anak tunggal, begitulah lebih tepatnya..

Dan waktupun terus meninggalkan waktu yang lampau. Anak lelakinya beranjak meninggalkan dunia putih abu-abu menuju dunia perkuliahan. Dan ia melanjutkan pendidikannya di tanah rantau. Beasiswa lebih tepatnya. Tentu ia teramat senang, senang karena selain di terima di perguruan tinggi yang ia impikan, juga karena ia akan pergi meninggalkan ibunya yang cacat itu. 

Dan sebelum ia berangkat, ia berkata kepada ibunya bahwa dia takkan pernah kembali, takkan pernah..
Ibunya hanya bisa terdiam, ia tak ingin kata-kata yang keluar dari mulutnya akan menyakiti hati anaknya. Sang anak pun lalu pergi ke tanah rantau..

Tahun demi tahun anak itu lalui di tanah rantau dengan segudang prestasi yang membanggakan dan ia sangat tersohor di tanah rantau itu. Dan sekali lagi ia tak pernah berkomunikasi dengan ibu yang telah melahirkannya.
Ketika anak itu ditanyakan tentang asal usul dirinya, ia tak pernah mengatakan sedikitpun tentang ibunya. Lalu ada seseorang bertanya tentang orang tuanya. Lalu ia menjawab bahwa mengapa anda tanyakan mereka, orang tuaku hanyalah orang yang tidak sempurna. Matanya, cacad. Tapi lihatlah aku. Dengan segala yang telah kumiliki saat ini. Dan jangan ada yang membahas tentang mereka. Itu sudah berlalu..

Waktu terus berjalan,,
Suatu saat ia mendapatkan kabar bahwa ibunya telah berpulang. Namun reaksi sang anak tetap tak peduli.
"Aku tak peduli, mau hidupkah, matikah, bukan urusanku. Aku tak ingin kembali"..
Lalu sang pemberi info yang tak lain adik dari ibunya mengatakan, "nak, kau awalnya bukanlah orang yang sempurna seperti saat ini. Ketika kau masih berumur 3 tahun, kau divonis cacat pada bagian mata sebelah kananmu. Dan salah satu cara agar matamu tidak cacat yaitu mendonorkan mata orang lain kepadamu. Lalu ibumu mendonorkan sebelah matanya untukmu. Karena ia ingin melihat kau sempurna di matanya, meski hanya satu mata yang bisa ia lihat pada dirimu. Ia begitu menyayangimu. Karena ia ingin kau terlihat sempurna, meski ia tak sempurna. Jadi masihkan kau begini? Bangga dengan kesempurnaanmu itu"

Anak tersebut menangis sejadi-jadinya, begitu menyesal dengan apa yang telah ia lakukan selama ini kepada ibunya. Kesempurnaan yang ia miliki itu berasal dari ketidaksempurnaan ibunya. Karena cinta, sayang, ibunya rela memberikan kesempurnaanya kepada anaknya yang saat itu tidak sempurna. Sehingga ia sempurna seperti saat ini.

Ingatlah, KESEMPURNAAN BISA HADIR DARI HAL-HAL YANG KAU ANGGAP TIDAK SEMPURNA. KARENA PORSI-PORSI DALAM  KEHIDUPAN INI TELAH DI ATUR SEDEMIKIAN RUPA OLEH-NYA. YAKINLAH, TIDAK ADA YANG LUPUT DARI SANG MAHA ADIL.

Aku

on Senin, 25 November 2013
Ketika semuanya mendapat sesuatu dari hal yang mudah,tidak dengan aku yang harus merasakan itu semua. Kerasnya hidup, itu yang aku lalui. Tetapi itulah yang membuatku menjadi begini..... Di saat mereka belum merasakan, aku sudah merasakannya. Bahkan aku tak tau itu terjadi dan telah aku alami...
Aneh untuk beberapa orang yang mengenalku bahwa aku begini. Tapi mereka tidak tau siapakah aku dan bagaimana hidupku....
I just say,take it easy....
Jalan hidup setiap manusia berbeda. Jikapun berbeda pasti memiliki ceritanya masing-masing. Namun ingatlah, akhir dari tujuan hidup manusia sama. Ketika mereka menganggapku aneh dengan segala apa yang mereka lihat, itu adalah jalanku. Itu jalanku. Terus kenapa? Kalau aku begini? Istimewa? Atau merasa muliakah mereka dengan jalan hidup mereka? Ataukah merasa masuk syurga dengan mudah mereka dengan segala apa yang telah mereka miliki?

Monolog Cinta

on Sabtu, 05 Oktober 2013

Dia merenung dalam bait tinta yang ditangkap lensa miliknya. Sepasang mata yang bening itu bergerak-gerak kiri ke kanan. Dia coba untuk memahami kata-kata itu.
“Cinta bukan tujuan, tapi hanyalah jalan. Cinta itu bukan matlamat, tapi hanyalah alat…”
“Cinta bukan tujuan. Tapi jalan. Cinta bukan matlamat. Tapi alat..” Bait tinta itu bergema dalam sanubarinya.
“Apa artinya?” Dia bermonolog.
Lama dia merenung. Sesekali, dia menghantar pandangan ke luar jendela. Dia menatap ke arah langit. Cerah. Subhanallah, indah ciptaan-Mu – Burung-burung berkicauan, tanda bertasbih kepada-Nya. Sang unggas bernyanyi riang, tanda memuji kepada-Nya. Segala yang ada di langit mahupun di bumi sujud pada keEsaan-Nya. Dalam asyik dia merenung keindahan ciptaan Tuhan, ada sesuatu yang mengusik kalbunya.

Cinta. Ya. Dia tahu dia masih muda remaja. Dia tahu masih banyak tanggungjawab yang harus digalasnya. Dia tahu masih banyak impian yang belum diraihnya. Dia tahu, umi dan abinya mengharapkan sesuatu daripadanya. Dia tahu perjalanan hidupnya baru bermula. Dia tahu dia tidak seharusnya leka dalam cinta dunia. Dia tahu dan dia mengerti segala-galanya. Namun, entah mengapa setiap kali dia cuba mengusir satu rasa yang bertamu di dada, tiap kali juga dia kalah melawan perasaannya.

Ya Allah, begitu kuat rasa itu hadir ke dalam kalbunya.
Apa yang perlu dia lakukan? Langkah apa yang perlu dia aturkan? Strategi apa yang perlu dia rencanakan?
Segala-galanya kelihatan suram. Segala-galanya kelihatan tidak berjalan. Hatinya kembali rawan. Mengapa dirinya tidak mampu melawan? Mengapa perasaannya seringkali kecundang? Mengapa hatinya seringkali bermusuhan dengan apa yang dia fikirkan? Hati dan akalnya tidak sehaluan.
Dia tidak mahu lemas dalam dakapan cinta yang melekakan. Dia hanya mahu lemas dalam dakapan cinta Tuhan. Tapi, makin kuat dia mencuba, makin kuat pula dia diduga.


Dia tahu, dia harus kuat menghadapinya. Dia tahu, dia harus melawan rasa cinta yang bertamu dalam hatinya. Dia tahu, dia harus mengusir rasa cinta pada manusia. Mengusir cinta bukan bererti membenci. Tetapi lebih kepada menjaga jarak antara dirinya dan dia. Hatinya cuma ada satu. Dia tahu, sakit rasanya apabila terluka. Pedih rasanya apabila kecewa. Pasti, dia akan berduka. Lalu, amanah yang dipertanggungjawabkan ke atasnya akan terbang dan hilang entah ke mana.

Dia harus memilih. Ya. Memilih sama ada dia ingin terus berfantasi atau menjejak realiti? Mahu terus berada dalam mimpi atau mahu menjejak bumi? Dia sadar. Cinta manusia itu adalah sesuatu yang tidak pasti. Cinta yang hakiki adalah berpaksikan pada DIA Sang Ilahi.
Dia juga sedar, kehidupan kini penuh dengan ujian Ilahi. Jika iman tidak terus diasah, maka dia akan tersungkur rebah. Jika akidah tidak terus dipelihara, maka dia akan terus bergelumang dengan dosa. Jika ilmu-Nya tidak terus diteroka, maka dia akan terus terleka dalam arus dunia. Dia juga sedar. Perjalanannya masih jauh. Banyak lagi yang harus ditempuh. Jika ujian sebegini dia tidak mampu menempuh, apatah lagi ujian lain yang mewajibkan imannya untuk terus teguh.
Dia nekad. Segala rasa cinta yang hadir sebelum waktunya perlu segera diusir. Bimbang pula hatinya akan terus terusik. Kini dia memegang pada satu prinsip!


Menjaga Hati

on Minggu, 09 Desember 2012
Hati ibarat cermin. Jika tidak dirawat dan dibersihkan, ia mudah kotor dan berdebu. Karena itu, Ibnul Qoyyim Al Jauziyah pernah mengatkan bahwa hati manusia terbagi dalam 3 kriteria; Qalbun Salim (hati yang sehat), Qalbun Mayyit (hati yang mati) dan Qalbun Maridh (hati yang sakit). Hati yang sakit (Qalbun Maridh), ia senantiasa dipenuhi penyakit yang bersarang di dalamnya. Di antaranya; Riya’, hasrat ingin dipuji, Hasad, dengki, ghibah dan sebagainya. Juga sombong dan tamak. Orang yang memiliki Qalbun maridh (hati yang sakit) akan sulit menilai secara jujur apapun yang tampak di depannya, Melihat orang sukses, timbul iri dengki, Mendapat kawan beroleh karunia rizki, timbul resah, gelisah, dan ujung-ujungnya menjadi benci Dihadapkan pada siapapun yang memiliki kelebihan, hatinya akan serta merta menyelidiki bibit-bibit dan kekurangannya, Bila sudah ditemukan hatinya pun akan senang bukan kepalang, Ibarat menemukan barang berharga, ia pun lalu mengumbar dan mengabarkan bibit dan kekurangan orang itu kepada siapa saja, agar kelebihannya menjadi tenggelam, naudzhubillah Sungguh rnalang dan kasihan orang yang kelakuannya seperti ini, hal ini terjadi karena hatinya yang dibiarkan sakit. Yang lebih parah adalah hati yang mati (Qalbun Mayyit). Hati ini sepenuhnya di bawah kekuasaan hawa nafsu, sehingga ia terhijab dari mengenal Allah Subhanahu Wata’ala. Hari-harinya adalah hari-hari penuh kesombongan terhadap allah, sama sekali ia tidak mau beribadah kepada-Nya, dia juga tidak mau menjalankan perintah dan apa-apa yang diridhai-Nya. Hati model ini berada dan berjalan bersama hawa nafsu dan keinginan-nya walaupun sebenarya hal itu dibenci dan dimurkai Allah. Ia sudah tak peduli, apakah Allah ridha kepadanya atau tidak? Sungguh, ia telah berhamba kepada selain Allah Bila mencintai sesuatu, ia mencintainya karena hawa nafsunya. Begitu pula apabila ia menolak, mencegah, membenci sesuatu juga karena hawa nafsunya. Sementara itu, hati yang baik dan sehat disebut Qalbun Salim. Inilah hatinya orang beriman. Hati ini adalah hati yang hidup, bersih, penuh ketaatan dengan cahaya terangnya dan bertenpat di nafsul mutmainnah (jiwa yang tenang). Dalam al-Qur’an disebutkan al-salim pada dua tempat. Antara lain QS. Al-Shaffat: 84 yang berbunyi: “(ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang selamat (sehat)”. Kemudian Q.S Al-Syu’ara: 87-89, Allah SWT berfirman: “Dan janganlah Kau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. Ayat pertama merupakan penjelasan mengenai Nabi Ibrahim sebagai golongan pengikut Nabi sebelumnya, yaitu Nabi Nuh yang memiliki hati yang ikhlas dan tidak ada keraguan dalam beriman kepada Allah SWT. Sedangkan pada ayat kedua hati yang bersih dijelaskan dalam tafsir Jalalain karangan Imam Jalaluddin As-Suyuti dan Imam Jalaludin Al-Mahalli berarti hati yang bersih atau selamat dari sifat syirik dan nifaq yang merupakan cerminan dari seorang mukmin. Sumarkan dan Titik Triwulan Tutik dalam bukunya “Misteri Hati” (Asrarul Qalb) mengungkapkan bahwa yang dimaksud Qalbun Salim (hati yang sehat) adalah hati yang terbebas dan selamat dari berbagai macam sifat tercela, baik yang berkaitan dengan Allah maupun yang berkaitan dengan sesama manusia dan makhluk Allah di alam semesta ini. Di antara sifat tercela yang merupakan penyakit hati, jika dihubungkan dengan Allah Subhanahu Wata’ala seperti syirik dan nifaq sedangkan pada sesama manusia adalah iri, dengki, hasud atau provokasi, fitnah, buruk sangka, serta khianat. Karenanya, sangat penting bagi kita semua menjaga hari-hari dalam kehidupan kita -- baik di lingkungan keluarga serta bermasyarakat-- menjaga hati agar tetap selalu konsisten dalam ridho dan petunjuk Allah. Karena seringkali kita melalaikan hal-hal kecil yang tanpa kita sadari telah meroposkan kekuatan hati yang merupakan sumber berprilaku sehingga hati kita sangat sulit untuk menjadi sehat. Maka dari itulah sebagai seorang Muslim kita dianjurkan untuk selalu berdoa di dalam shalat agar diberi ketetapan hati pada agama yang lurus (Islam). Kata Nabi, sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat. Cara membersihkannya adalah dengan mengingat Allah [dzikrullah] ” “Qalbu berkarat karena dua hal yaitu lalai dan dosa. Dan pembersihnya-pun dengan dua hal yaitu istighfar dan dzikrullah.” [HR.Ibnu Ab’id dun ya Al-Baihaqi]. Wallahu a’lam.