Adalah seorang anak lelaki yang sangat gagah, tampan dan rupawan yang tinggal bersama ibunya di sebuah rumah sederhana.
Saat itu lelaki ini menginjak masa remaja, tepatnya masa SMA. Ibunya memiliki cacat pada sebelah matanya sehingga anak lelakinya malu dengan ibunya ini. Setiap temannya ingin bermain kerumahnya, ia selalu menolak dengan 1001 alasan. Ya gitulah, anak jaman sekarang yang tidak mau dinilai jelek sama orang lain.
Saat itu lelaki ini menginjak masa remaja, tepatnya masa SMA. Ibunya memiliki cacat pada sebelah matanya sehingga anak lelakinya malu dengan ibunya ini. Setiap temannya ingin bermain kerumahnya, ia selalu menolak dengan 1001 alasan. Ya gitulah, anak jaman sekarang yang tidak mau dinilai jelek sama orang lain.
Suatu saat, ibunya bertanya kepada anaknya, "mengapa teman-temanmu tidak pernah bermain atau singgah dirumah?''...
"Kok ibu bertanya kepadaku? Seharusnya aku yang bertanya mengapa aku memiliki ibu seperti ini." Ucap anak lelaki..
Sang ibu pun merasa terguncang atas ucapan sang anaknya itu. Tapi ia tak ingin menampakkan bagaimana perasaanya kepada anaknya tersebut. Karena anaknya itulah anak yang teramat ia sayangi. Anak tunggal, begitulah lebih tepatnya..
Dan waktupun terus meninggalkan waktu yang lampau. Anak lelakinya beranjak meninggalkan dunia putih abu-abu menuju dunia perkuliahan. Dan ia melanjutkan pendidikannya di tanah rantau. Beasiswa lebih tepatnya. Tentu ia teramat senang, senang karena selain di terima di perguruan tinggi yang ia impikan, juga karena ia akan pergi meninggalkan ibunya yang cacat itu.
Dan sebelum ia berangkat, ia berkata kepada ibunya bahwa dia takkan pernah kembali, takkan pernah..
Ibunya hanya bisa terdiam, ia tak ingin kata-kata yang keluar dari mulutnya akan menyakiti hati anaknya. Sang anak pun lalu pergi ke tanah rantau..
Tahun demi tahun anak itu lalui di tanah rantau dengan segudang prestasi yang membanggakan dan ia sangat tersohor di tanah rantau itu. Dan sekali lagi ia tak pernah berkomunikasi dengan ibu yang telah melahirkannya.
Ketika anak itu ditanyakan tentang asal usul dirinya, ia tak pernah mengatakan sedikitpun tentang ibunya. Lalu ada seseorang bertanya tentang orang tuanya. Lalu ia menjawab bahwa mengapa anda tanyakan mereka, orang tuaku hanyalah orang yang tidak sempurna. Matanya, cacad. Tapi lihatlah aku. Dengan segala yang telah kumiliki saat ini. Dan jangan ada yang membahas tentang mereka. Itu sudah berlalu..
Waktu terus berjalan,,
Suatu saat ia mendapatkan kabar bahwa ibunya telah berpulang. Namun reaksi sang anak tetap tak peduli.
"Aku tak peduli, mau hidupkah, matikah, bukan urusanku. Aku tak ingin kembali"..
Lalu sang pemberi info yang tak lain adik dari ibunya mengatakan, "nak, kau awalnya bukanlah orang yang sempurna seperti saat ini. Ketika kau masih berumur 3 tahun, kau divonis cacat pada bagian mata sebelah kananmu. Dan salah satu cara agar matamu tidak cacat yaitu mendonorkan mata orang lain kepadamu. Lalu ibumu mendonorkan sebelah matanya untukmu. Karena ia ingin melihat kau sempurna di matanya, meski hanya satu mata yang bisa ia lihat pada dirimu. Ia begitu menyayangimu. Karena ia ingin kau terlihat sempurna, meski ia tak sempurna. Jadi masihkan kau begini? Bangga dengan kesempurnaanmu itu"
Anak tersebut menangis sejadi-jadinya, begitu menyesal dengan apa yang telah ia lakukan selama ini kepada ibunya. Kesempurnaan yang ia miliki itu berasal dari ketidaksempurnaan ibunya. Karena cinta, sayang, ibunya rela memberikan kesempurnaanya kepada anaknya yang saat itu tidak sempurna. Sehingga ia sempurna seperti saat ini.
Ingatlah, KESEMPURNAAN BISA HADIR DARI HAL-HAL YANG KAU ANGGAP TIDAK SEMPURNA. KARENA PORSI-PORSI DALAM KEHIDUPAN INI TELAH DI ATUR SEDEMIKIAN RUPA OLEH-NYA. YAKINLAH, TIDAK ADA YANG LUPUT DARI SANG MAHA ADIL.

